(Ni Made Sutriani : diuji 7 Agustus 2015) Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Tradisi Magebeg-Gebegan Godel Pada Upacara Bhuta Yadnya Di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Skripsi Telah Diuji pada tanggal 7 Agustus 2015

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU

DALAM TRADISI MAGEBEG-GEBEGAN GODEL PADA UPACARA BHUTA YADNYA

DI DESA PAKRAMAN DHARMAJATI,

DESA TUKADMUNGGA, KECAMATAN BULELENG, KABUPATEN BULELENG

Skripsi Diajukan kepada Fakultas Pendidikan Agama dan Seni Universitas Hindu Indonesia untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan Agama Hindu

 

NI MADE SUTRIANI

NPM : 11.07.01.1383

  Logo_UNHI_2

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU

FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA DAN SENI

UNVERSITAS HINDU INDONESIA

DENPASAR

2015

skripsi t1 skripsi t2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Indonesia sebagai Negara yang sedang berkembang dalam era globalisasi sekarang ini telah menunjukkan peradaban kebudayaan. Terbukti dengan makin dikenal dan makin disoroti oleh dunia luar karena keanekaragaman kebudayaan daerah yang mendukung terciptanya kebudayaan nasional. Mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, baik dilihat dari suku bangsa maupun agama-agamanya, maka tidaklah mengherankan bahwa suku bangsa dan agama-agama itu banyak memberikan andil dalam menyumbangkan kebudayaannya masing-masing sebagai pendukung kebudayaan nasional.

Kebudayaan dalam satu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang di jadikan pedoman hidup oleh masyarakat khususnya masyarakat Hindu Bali. Karena dijadikan acuan dalam bertingkah dan bertingkah laku maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam satu masyarakat disamping itu sikap dan prilaku keagamaan sebagai pernyataan dari kehidupan keagamaan yang dapat diamati yang menggambarkan fenomena yang menarik.

Agama Hindu memeiliki tiga kerangka dasar yaitu tattwa (filsafat), Upacara (ritual), Susila (etika). Agama Hindu di Bali sangat terkenal dalam hal upacara. Di Bali banyak kita lihat masyarakat mengadakan suatu upacara yadnya. Walaupun suatu desa melakukan upacara yadnya yang sama akan tetapi kemungkinan ada sedikit perbedaan karena itu di sesuaikan dengan desa, kala, dan patra masing-masing. Upacara Agama Hindu di Bali dibagi menjadi lima bagian yang disebut Upacara Panca Yadnya, yaitu lima korban suci yang tulus iklas. Adapun bagian dari Upacara Panca Yadnya itu adalah : Dewa yadnya adalah korban suci yang tulus iklas kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan seluruh manifestasi-Nya, Rsi Yadnya adalah persembahan kepada para Rsi, Pitra Yadnya adalah persembahan suci yang ditujukan kepada para roh-roh suci dan leluhur, Manusa Yadnya adalah penyucian secara spiritual terhadap seseorang dari dalam kandungan sampai akhir hidupnya, Bhuta Yadnya adalah korban suci atau persembahan kepada para Bhuta Kala dan kekuatan alam. Menurut Nada Atmaja I Made, dkk (2011: 35) dalam bukunya yang berjudul ”Etika Hindu” mengatakan bahwa Tanpa yadnya Tuhan, alam semesta beserta isinya tidak akan ada oleh karena itu betapa pentingnya yadnya itu bagi umat Hindu.

Umat Hindu mengamalkan Dewa Yadnya berupa bhakti persembahan dalam memenuhi tanggung jawabnya terhadap Tuhan. Mengamalkan manusa yadnya berupa amal sedekah untuk memenuhi tanggung jawab terhadap sesama. Kewajiban terhadap alam lingkungannya dilaksanakan dengan pengamalan Bhuta Yadnya, mengupayakan kelestarian lingkungan. Umat Hindu melaksanakan tanggung jawabnya dengan menciptakan keharmonisan dengan Yang Maha Pencipta dengan melaksanakan puja bhakti, keharmonisan dengan sesama manusia dan keharmonisan dengan alam semesta melalui alam lingkungannya yang disebut dengan Tri Hita Karana ( Bantas, 2008:4.43)

Dalam melaksanakan Yadnya, tidak hanya bhakti atau ketaatan pada agama saja tetapi bermaksud melakukan tindakan dan dalam pelaksanaannya yang bersumber pada ajaran agama Hindu merupakan salah satu ciri aktivitas masyarakat dalam melaksanakan sembah sujud kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, manusia juga memohon keselamatan, keseimbangan dan keharmonisan. Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga.

Agama Hindu memberikan kebebasan kepada semua umat-Nya untuk dapat menghayati dan mengamalkan serta memaknai inti ajaran-Nya. Pengamalan ajaran Agama Hindu di Bali sangat mudah dilihat dalam kearifan lokal masyarakat setempat. Menurut Sriwidari (2013:1), kearifan lokal sangat mudah dilihat dalam bentuk karya sastra, bangunan suci dan keagamaan dalam bentuk pura serta pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya dan keanekaragaman jenis tradisi di setiap desa yang ada di Bali yang memiliki keunikan tersendiri.

Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah karena sudah menyatu dalam kehidupan sehari-sehari. Tradisi merupakan bentuk norma-norma yang terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk di ketahui sumber asalnya. Oleh karena itu, tampaknya tradisi sudah terbentuk sebagai norma yang dibakukan dalam kehidupan masyarakat.

Dari sekian banyak tradisi yang ada di Bali, khususnya di Bali Utara salah satunya adalah Tradisi Magebeg-gebegan Godel yang dilakukan oleh Masyarakat di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Tradisi perebutan kepala Godel ini dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga yang digelar pada saat upacara Bhuta Yadnya yaitu upacara pecaruan tawur kesanga dengan tujuan untuk keseimbangan alam semesta bhuwana agung dan bhuwana alit yang dilaksanakan di perempatan agung (Catus Pata) setiap tahun sekali pada sasih kesanga tepatnya tilem sasih kesanga nuju sandikala yang dipimpin oleh Pemangku Kahyangan Tiga. Tradisi Magebeg-gebegan Godel di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga memiliki keunikan yaitu pada saat selesai upacara macaru sekaa truna di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga yang terdiri dari empat Banjar memperebutkan daging Godel (anak sapi) yang merupakan simbolis Bhuta Kala. Daging Godel yang berhasil di dapat oleh sekaa truna akan dibawa pulang dan di konsumsi bersama-sama dengan keluarga dan anggota kelompok yang ikut memperebutkan daging godel dalam tradisi tersebut. Caru dalam mayoritas tradisi di Bali umumnya selalu dibuang (lebar), namun dalam tradisi Magebeg-gebegan Godel, masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga memanfaatkan daging Godel (anak sapi) yang telah dipakai caru untuk dibawa pulang.

Tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya memiliki nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya sebagai Tattwa, Etika, Upacara, Estetika, kebersamaan dan sosial budaya. Tradisi Magebeg-gebegan Godel merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan khususnya Bhuta Yadnya secara tidak langsung bagi masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng. Melalui pesan yang terdapat dalam Tradisi Magebeg-gebegan tersebut, anggota masyarakat khususnya warga Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga akan memaknai dan memahami isi yang terkandung didalamnya, sehingga tradisi tersebut senantiasa terpelihara dan dijaga dari kepunahan. Begitu pula generasi muda sebagai pewaris tradisi dapat menyaksikan dan meneruskan pelaksanaan tradisi Magebeg-gebegan Godel ini.

Dengan latar belakang di atas, maka penulis menilai perlu untuk mengamati tradisi ini secara lebih dekat sehingga dapat dipaparkan norma-norma dan nilai-nilai Agama Hindu yang terkandung di dalamnya dan merupakan isi pendidikan yang bakal di wariskan generasi tua kepada generasi muda. Akhir kata, penulis tuangkan dalam bentuk karya ilmiah yang berjudul ”Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Tradisi Magebeg-gebengan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng”.

1.2     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas terkait dengan penelitian yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Tradisi Magebeg-gebegan Godel pada upacara Bhuta Yadnya di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga Kecamatan Buleleng, maka rumusan masalah dapat dikemukakan sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimanakah pelaksanaan Tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng?

1.2.2 Apakah Fungsi Tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya bagi masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng?

1.2.3 Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu apa sajakah yang terkandung dalam Tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng?

1.3 Tujuan Penelitian

Dalam suatu kegiatan tentu akan ada tujuan yang ingin dicapai yang dapat mengarahkan seseorang dalam kegiatan yang dilakukan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut ini.

1.3.1 Tujuan Umum

Adapun tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memberikan informasi yang benar bagi masyarakat Hindu mengenai keberadaan tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga. Disamping itu penelitian lapangan dimaksudkan untuk lebih memahami pentingnya melestarikan dan melaksanakan kearifan lokal yang merupakan warisan dari para leluhur serta nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi Magebeg-gebegan Godel pada upacara Bhuta Yadnya yang sesuai dengan ajaran agama Hindu.

1.3.2  Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk menjawab ketiga masalah yang telah dirumuskan secara jelas, yakni sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
  2. Untuk mengetahui fungsi tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya bagi masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
  3. Untuk mengetahui Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu apa saja yang terkandung dalam tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya yang ada di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

1.4     Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi yang memerlukan sehingga penelitian ini mempunyai manfaat yang optimal, baik secara teoritis maupun praktis.

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan akademik bagi seluruh mahasiswa sebagai pengetahuan tambahan dan bahan masukan, disamping itu penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dan sumber bacaan serta informasi mengenai nilai-nilai pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam tradisi Magebeg-gebegan Godel pada Upacara Bhuta Yadnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

1). Manfaat bagi masyarakat umum

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi umat Hindu pada umumnya untuk lebih mencintai dan melestarikan tradisi dan kearifan local yang merupakan warisan leluhur.

2) Manfaat bagi Masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga.

Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi masyarakat Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga dalam upaya melestarikan dan menjaga Tradisi Magebeg-gebegan Godel ini.

3) Manfaat bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pangkal tolak dari penelitian berikutnya yang jauh lebih mendalam sehingga bisa menyempurnakan temuan lapangan yang sementara ini didapat.

Beberapa bagian skripsi ini tidak diperlihatkan…

One thought on “(Ni Made Sutriani : diuji 7 Agustus 2015) Nilai-Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Tradisi Magebeg-Gebegan Godel Pada Upacara Bhuta Yadnya Di Desa Pakraman Dharmajati, Desa Tukadmungga, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s