MANUSIA MAKHLUK YANG BERPIKIR

Oleh : Md Sutriani / 11.07.01.1383

Om Swastiastu

Puji syukur kita panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi karena atas asung wara nugraha-Nyalah, saya dapat menyusun atau membuat laporan pembahasan tentang pentingnya ratio dalam perilaku keagamaan dengan tema Manusia Makhluk Yang Berpikir. Dengan tema pembahasan ini, banyak para ahli yang mengeluarkan pendapatnya mengenai ratio dalam agama.

Laporan ini saya tulis dengan maksud dan tujuan memperluas pemahaman atau pengetahuan serta pemikiran manusia tentang bagaimana perilaku-perilaku keagamaan dalam ajaran hindu.

Dalam pembahasan ini, ratio dalam perilaku keagamaan merupakan proses berpikir logika analistik yang mampu membuahkan pengetahuan kebenaran, dan merupakan akal pikiran pada manusia yang mampu menghasilkan suatu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Perilaku yang mencerminkan sikap positif dan negative merupakan atas dasar pikiran yang dimiliki setiap manusia. Ada seorang ahli yang bernama Thomas Van Aquino yang menyatakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah berpikir. Manusia memahami “kemahakuasaan” Tuhan karena menggunakan kemampuan berpikirnya. Maksud dari pernyataan tersebut bahwa intinya di dalam jiwa manusia ada pikiran yang terpusat, karena pikiran merupakan kelebihan pada diri manusia. Dalam Tri Premana pikiran disebut juga Idep, karena pikiranlah manusia dikatakan makhluk yang sempurna. Tetapi sempurna dalam bertindak itu belum tentu, karena dalam melakukan setiap tindakan harus tepat sesuai dengan apa yang dipikirkan.

Setiap tindakan manusia berawal dari pikiran, karena pikiran sudah merupakan bakat dan bawaan manusia. Apa yang dipikirkan manusia merupakan realitas yang tidak selalu hadir dihadapannya. Maksudnya ialah untuk lebih mengetahui realitas atau bentuk-bentuk perilaku sesuai dengan realita seperti sikap bertindak diam, tertarik, ogah karena tidak menarik,kebingungan, terhibur untuk menghampiri realitas atau kenyataan yang ada. Jadi, berpikir itu merupakan sebuah proses mencari tahu atau pengetahuan sesuatu yang ada maupun tidak ada. Seperti pendapat seorang ahli Fredrick Hegel yang mengemukakan bahwa agama merupakan pengetahuan yang benar dan kebenarannya abadi. Intinya pengetahuan yang benar merupakan pengetahuan yang sudah tepat yang sesuai dengan realitas sehingga dikatakan kebenarannya abadi karena dalam sistem pengetahuan yang dimiliki manusia atas dasar pemikiran yang tenang dan terpusat dan tepat pada sasaran sesuai apa yang dipikirkan. Namun kadang  manusia berpikir tepat tetapi tidak tepat pada sasaran, atau sebaliknya sasarannya sudah tepat tetapi jalan pikirannya tidak tepat. Hal ini tampak ada kekurangan, yaitu disebabkan kurangnya metode berpikir.

Secara sederhana metode itu ialah metode dasar yang merupakan awal yang diberikan oleh Sang Pencipta pada manusia untuk bekal pengembangan tahap lanjut. Tahap lanjut disini merupakan sistem ketepatan dalam berpikir dengan disiplin, sehingga ilmu yang terkait dalam pemikiran manusia disebut logika. Dimana logika dapat dibagi 2, yaitu logika formal yang menyatakan tentang kerangka berpikir dan logika material menyatakan tentang bahan berpikir. Jadi logika adalah cara berpikir tepat sasaran sedangkan berpikir logis adalah berpikir secara tepat baik dalam kerangka maupun materi.

Dalam Tri Kaya Parisudha pikiran disebut manacika, melalui manah atau pikiran yang dimiliki manusia maka jiwa manusia akan mampu membedakan mana perilaku yang baik dan benar serta perilaku yang buruk atau salah, karena setiap perbuatan sudah pasti menimbulkan karma phala. Dengan pikiran yang baik dan benar maka setiap manusia akan menemukan jalan yang lurus dan tidak ada kesesatan dalam mencapai tujuan hidup. Dengan kepercayaan dan keyakinan umat manusia pada Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa, bahwa setiap perbuatan ada buah atau hasilnya. Seperti seorang ahli bernama Fredrick Sehleimacher yang mengemukakan bahwa manusia lahir, hidup dan mati sangat tergantung dari kekuatan mutlak yaitu Tuhan. Intinya manusia harus percaya dan yakin adanya tuhan, karena penjelmaan atau kelahiran dan kematian seseorang sudah di atur oleh kehendak Tuhan. Karena kelahiran hidup manusia ini tentu adanya atman yaitu percikan kecil dari paramatman (tuhan), adanya reinkarnasi atau punarbhawa yaitu kelahiran yang berulang-ulang ke bumi ini yang disebabkan karena perbuatan yang terdahulu. Sehingga dengan penjelmaan menjadi manusia kembali, maka manusia dapat memperbaiki dosa-dosanya dengan jalan berbuat baik serta tulus ikhlas tanpa pamrih.

Seperti yang di kemukakan oleh seorang ahli Rudolf Otto bahwa manusia melaksanakan upacara agama karena dipengaruhi rasa kagum. Dalam agama hindu upacara agama disebut yadnya. Yadnya merupakan korban suci yang tulus iklas tanpa pamrih. Upacara agama ini merupakan sarana dan prasarana serta sebagai persembahan untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa untuk mohon tuntunan keselamatan serta jalan yang lurus untuk mencaoai tujuan hidup yaitu sorga. Sehingga ada seorang ahli Sigmen Frued berpendapat bahwa manusia takut akan segala dosa-dosanya, maka terdorong untuk mengamalkan ajaran agama agar memperoleh ketenangan dan kedamaian.untuk memperoleh hal ini bisa melalui dengan melakukan yoga semadhi yaitu memusatkan pikiran agar mencapai ketenangan. Disini manusia berusaha menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Tuhan, karena jika berbuat tidak sesuai dengan perintah-Nya maka manusia tidak akan tenang dalam hidupnya. Untuk menjauhi larangannya serta mematuhi perintahnya kita patut mengamalkan ajarannya dalam agama, seperti mempelajari kitab-kitab suci weda dan kitab-kitab yang lainnya untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Dengan mengamalkan ajarannya maka sudah tentu akan mencapai tujuan hidup (sorga) serta mencapai kelepasan atau kebebasan jasmani dan rohani serta kebahagiaan lahir dan bathin.

Demikianlah pemahaman saya dari beberapa pendapat dari para ahli agama, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa manusia pada awalnya, sebelum berperilaku sudah harus mempunyai pikiran yang baik dan benar, karena pikiranlah yang menentukan kehidupan di masa yang akan dating. Maksudnya dari semua perbuatan yang manusia lakukan akan mengantar manusia untuk menuju jalan atau tujuan hidup. Jika pemikiran manusia tidak tepat maka akan mengalami kehancuran dan mengalami kesesatan dalam mencapai tujuan hidup.

Akhir kata semoga laporan pembahasan yang tidak sempurna ini dapat memberi manfaat bagi pembaca, jika ada kesalahan kata, saya mohon maaf.

Om Santih, Santih, Santih, om

DARTAR PUSTAKA

Buku Psikologi Agama, karangan Suasthi & suastawa, Penerbit Widya Dharma Denpasar.

Buku Yoga Marga Rahayu, karangan I Wayan  Suka Yasa,dkk. Penerbit Widya Dharma Denpasar.

Http// http://www.geogle.com

2 thoughts on “MANUSIA MAKHLUK YANG BERPIKIR

  1. Nur Yandi mengatakan:

    manusia memang memiliki hak untuk berpikir karena dengan berpikir maka hidupnya akan berarti, dan bahkan akan menjadi seorang yang ternama dimasyarakat, akan tetapi masalahnya berpikir seperti apa yang bisa membuat dirinya berarti. Mungkinkah kita berpikir tentang Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s