“Agama Menuntun Manusia Ke Jalan Yang Benar”

Oleh : Ni Made Sutriani / 11.07.01.1383 
Program Studi Pendidikan Agama Hindu 
Fakultas Pendidikan Agama Dan Seni - UNHI

_____________________________________________________________

Agama Menuntun Manusia Ke Jalan Yang Benar

Agama merupakan kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia, sehingga memberikan rasa aman dan memiliki ketetapan hati dalam menghadapi hidup. Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhir pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu. Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan. Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan. Agama menghadirkan manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya.
Pada dasarnya, kita mengenal dan memeluk agama karena pengaruh lingkungan keluarga dan tradisi yang ada dalam masyarakat. Setelah melalui proses belajar dan dengan bertambahnya usia serta pergaulan, tentu saja seseorang memiliki alasan dan penjelasan lebih rasional mengapa memeluk agama, meskipun tidak semua keyakinan dan pengalaman beragama bisa dijelaskan secara logis-rasional.
Berawal dari keyakinan adanya Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik alam semesta, berujung pada keyakinan adanya keabadian jiwa setelah kematian. Yang paling diharapkan oleh orang beragama adalah memperoleh keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat (moksartham jagadhitaya ca iti dharmah), sehingga setiap agama mengenal konsep surga-neraka dengan pengertian yang berbeda-beda.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama. Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya.
Dalam masyarakat Barat modern ataupun tradisional ditemukan komunitas yang meyakini adanya Tuhan dan kehidupan akhirat, namun tidak mau terikat dengan institusi dan ajaran agama yang formal. Mereka memiliki kesadaran berdasarkan rasio dan logika dalam memahami agama dan Tuhan. Manusia mengabdikan diri kepada Tuhan sebagai yang mempunyai kekuasaan tertinggi di alam jagat raya. Beberapa pengikut aliran ratio mengemukakan pendapatnya mengenai sumber kejiwaan agama, seperti dibawah ini, :
1.  Menurut Thomas van Aquino
Yang menjadi sumber kejiwaan agama itu ialah berfikir. Manusia memahami “kemahakuasaan” Tuhan karena menggunakan kemampuan berpikirnya. Kehidupan beragama merupakan refleksi dari kehidupan berfikir manusia itu sendiri, karena pikiran merupakan kelebihan pada diri manusia. Pada dasarnya manusia diciptakan untuk berpikir, maka dari itu manusia sangat memerlukan agama untuk menuntun hidup kearah yang benar, agar manusia dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dalam Tri Premana, pikiran disebut juga Idep, karena pikiranlah manusia dikatakan makhluk yang sempurna dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Setiap tindakan manusia berawal dari pikiran, karena apa yang dipikirkan manusia merupakan realitas yang tidak selalu hadir dihadapannya. Jadi, berpikir itu merupakan sebuah proses mencari tahu atau pengetahuan sesuatu yang ada maupun tidak ada.
2.   Menurut Frederick Hegel
Agama merupakan pengetahuan yang benar dan kebenarannya abadi. Dikatakan kebenarannya abadi karena dalam sistem pengetahuan yang dimiliki manusia atas dasar pemikiran yang tenang, terpusat dan tepat pada apa yang dipikirkan. Dalam Tri Kaya Parisudha pikiran disebut manacika, melalui manah atau pikiran yang dimiliki manusia maka jiwa manusia akan mampu membedakan mana perilaku yang baik dan benar serta perilaku yang buruk atau salah, karena setiap perbuatan sudah pasti menimbulkan karma phala. Dengan pikiran yang baik dan benar maka setiap manusia akan menemukan jalan yang lurus dan tidak ada kesesatan dalam mencapai tujuan hidup. Dengan kepercayaan dan keyakinan umat manusia pada Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa, bahwa setiap perbuatan ada buah atau hasilnya. Berdasarkan konsep itu maka agama semata-mata merupakan hal-hal atau persoalan yang berhubungan dengan pikiran.
3.   Menurut Frederick Schleimacher
Bahwa manusia lahir, hidup dan mati sangat tergantung dari kekuatan mutlak yaitu Tuhan. Intinya manusia harus percaya dan yakin adanya Tuhan, karena penjelmaan atau kelahiran dan kematian seseorang sudah diatur oleh kehendak Tuhan. Karena kelahiran hidup manusia ini tentu akibat adanya atman, adanya reinkarnasi atau punarbhawa yaitu kelahiran yang berulang-ulang ke dunia yang disebabkan karena perbuatan yang terdahulu. Sehingga dengan penjelmaan menjadi manusia kembali, maka manusia dapat memperbaiki dosa-dosanya dengan jalan berbuat baik serta tulus ikhlas tanpa pamrih.
4.   Menurut Rudolf Otto
Bahwa manusia melaksanakan upacara agama karena dipengaruhi rasa kagum. Dalam agama hindu upacara agama disebut yadnya. Yadnya merupakan korban suci yang tulus iklas tanpa pamrih. Upacara agama ini merupakan sarana dan prasarana serta sebagai persembahan untuk memuja Tuhan ( Sang Hyang Widhi Wasa ) untuk memohon keselamatan, karena kekuasaan-Nya kita yakini dapat melindungi kita.
5.   Menurut Sigmund Freud
Bahwa manusia takut akan segala dosa-dosanya, maka terdorong untuk mengamalkan ajaran agama agar memperoleh ketenangan dan kedamaian. Dalam hal ini manusia berusaha menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang dilarang oleh Tuhan, jika berbuat tidak sesuai dengan perintah dan larangan-Nya maka manusia tidak akan tenang dalam hidupnya karna selalu dihantui oleh dosa-dosa atas perbuatannya. Untuk menjauhi larangan-Nya serta mematuhi perintah-Nya kita patut mengamalkan ajaran-ajaran agama, seperti mempelajari kitab-kitab suci weda untuk memperdalam ilmu pengetahuan serta dengan melakukan yoga semadhi yaitu memusatkan pikiran agar mencapai ketenangan.  Dengan mengamalkan ajaran-Nya maka sudah tentu akan mencapai tujuan hidup (moksartham jagadhitaya ca iti dharmah).

Kesimpulan

  1. Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendakNya yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia.sedangkan masalah-masalah kejiwaan dan prilaku yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama dipelajari dalam psikologi agama.
  2. Sumber jiwa agama menurut pengikut aliran ratio adalah kepercayaan yang dibangun berdasarkan logika dan pikiran yang baik dalam melakukan setiap perbuatan dalam kehidupan beragama. Bahwa setiap perbuatan baik akan mendatangkan kharma yang baik pada setiap orang dan dosa adalah musuh agama. Dengan jalan takwa yaitu menjalankan ajaran-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya adalah alat ukur bagi kita dalam mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan.

Daftar Pustaka
http://doctorliza.blogspot.com/2007/11/psikologi-agama.html, diakses tanggal 10 Desember 2011
http://www.uinjkt.ac.id/index.php/category-table/2033-mengapa-kita-beragama.html, diakses tanggal 10 Desember 2011
Suasthi & Suastawa.Psikologi Agama. Widya Dharma-Denpasar, 2008

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s