“UTSAWA DHARMA GITA”

(Sunting artikel) - Tugas Sad Darsana IV

“Semoga semua nyanyianku menyatukan lagunya beraneka itu ke dalam arus yang satu, dan mengairkannya ke dalam samudra sunyi, dalam sebuah pujaan pada-Mu. Sebagai sekawan burung gagak yang rindukan pulang, malam dan siang terus terbang ke sarangnya di gunung, biarlah demikian seluruh hidupku pulang kembali ke rumahnya abadi, dalam satu pujaan pada-Mu” (Rabindranath Tagore).

Bersamaan dengan penyelenggaran Maha Sabha Parisada Hindu Dharma Indonesia VI, dilangsungkan juga kegiatan Utsawa Dharma Gita, suatu mata acara perlombaan melantunkan “nyanyian Dharma” sebagaimana disuratkan melalui syair atau sloka-sloka kitab suci, baik dengan kriteria estetika gegitaan, tetembangan maupun palawakya.

Utsawa Dharma Gita, seperti telah menjadi ketetapan adalah merupakan salah satu media bermanfaat dalam pembinaan mental spiritual umat. Didalamnya dikandung maksud, selain untuk lebih “mengakrabkan” umat dengan pustaka – pustaka sucinya, juga bertujuan luhur guna terus menggemakan “nyanyian – nyanyian Tuhan” itu agar mampu menggetarkan kesadaran untuk selalu berpihak pada “suara kebenaran”. Pada akhirnya, pelantunan lagu-lagu kerohanian itu dapat dijadikan sebagai Gitanjali — medium persembahan bhakti dalam pemujaan kehadapan Hyang Widhi. Bagi umat Hindu, jauh sebelum Utsawa Dharma Gita diperkenalkan sebagai kegiatan lomba, apa yang disebut sebagai tradisi Gitanjali sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari bermacam aktivitas keagamaan. Mewirama, mekidung, mekekawin, megeguritan atau memutru adalah bentuk – bentuk kongkret dari sebuah upaya rahayu untuk memuja-muji kebesaran Hyang Widhi melalui persembahan Gita. Apalagi jika dipahami, bahwa kitab suci Weda itu sendiri sesungguhnya adalah suratan kata-kata yang diucapkan dan atau dinyanyikan (dengan aturan tertentu) yang disebut dengan Rca atau Chandra, dan lebih populer lagi dinamakan Mantra. Jadi Weda tidaklah lain dari “nyanyian – nyanyian suci”, yang untuk melafalkannya mesti dilagu-nyanyikan. Dengan demikian, kegiatan Dharma Gita sebagai Gitanjali — persembahan dalam pemujaan melalui penembangan “nvanyian Tuhan” adalah hal lumrah yang kini jelas perlu kembali digairahkan. Rupanya, bagai gayung bersambut, kegiatan – kegiatan melagukan / menyanyikan syair dan atau sloka-sloka keagamaan sudah mulai dilembagakan ke dalam suatu wadah Pesantian – Pesantian, yang kemudian disalurkan lagi pada muara Utsawa Dharma Gita secara berkelanjutan. Kesemua itu dilakukan, tentulah selain sebagai usaha untuk terus menghidupgairahkan serta melestarikan tetap menggaungnya tembang – tembang bermisi suci, lebih rahayu lagi diarahkan untuk semakin dapat menggugah kesadaran umat untuk taat tekening pewarah agama. Oleh karena itu, meski Utsawa Dharma Gita bersifat lomba, jelas tidak boleh dianggap tuntas di sebatas target perolehan nilai kuantitas di atas kertas. Yang justru amat esensi dituntut adalah kualitas Gitanjali-nya — bagaimana umat dapai menjadikan Dharma Gita — nyanyian-nyanyian kebenaran yang adalah Daiwi Wak — Sabda Tuhan sebagai penuntun hidup yang berkebenaran. Bahwa dalam Utsawa Dharma Gita bukan hanya segi estetika pelantunan yang dinilai, tetapi penggugatan sisi etika bhakti sebagai refleksi keimanan kehadapan Hyang Widhi itulah yang sesungguhnya jauh lebih maknawi sekaligus bernilai. Utsawa Dharma Gita, betapa pun bukanlah semacam kegiatan lomba menyanyi dalam pengertian umum. Kalau sekadar menyanyi siapa pun tentu bisa dengan mudah melakukannya. Apalagi menyanyi untuk menghibur diri, sebagai pelipur hari yang hancur, tanpa perlu latihan teratur orang dapat menjadi penyanyi penghibur, setidaknya untuk diri sendiri.

Akan tetapi untuk dapat mengumandangkan “nyanyian – nyanyian Tuhan” tak ubahnya bagai buluh sunari di uma menyanyikan “lagu-lagu kemakmuran” yang ditembangkan sebagai persembahan kepada Sang Dewi Sri agar padi-padi menjadi penuh berisi — subur dan makmur. Begitupun tak bedanya Dharma Gita — menyanyikan lagu-lagu kebenaran ajaran Tuhan, sama maknanya dengan berupaya menumbuh – suburkan jiwa – jiwa spiritual untuk senantiasa berpegang pada aturan Dharma. Jadi, Dharma Gita jelas tidak hanya untuk menyenangkan indra pendengaran, tetapi lebih jauh dan dalam dari sekadar estetik adalah untuk mengukuhkan sendi – sendi rohani, menguatkan relung-relung ruang imani dengan menggelitik kesadaran agar senantiasa berjalan menuruti ajaran – ajaran suci yang selanjutnya dapat diwujudnyatakan dalam bentuk bhakti — kehadapan Hyang Widhi dan juga kepada sesama insani.

Dharma Gita dalam artinya yang esensi adalah sebuah Gitanjali — persembahan dalam pemujaan pada-Nya. Seorang penyair terkenal Hindu Rabindranath Tagore dengan kumpulan syairnya “Gitanjali” yang telah mengantarkannya meraih hadiah Nobel bidang kesusastraan, memberi “pelajaran” kepada kita betapa “nyanyian – nyanyian persembahannya” berobsesi mencari-Nya. Kutipan syairnya, “Sepanjang hidupku aku mencari Engkau dengan nyanyianku. Nyanyianku inilah yang menentukan aku dari pintu ke pintu dan bersama dia aku meraba sekelilingku, memeriksa dan menjamah-jamah duniaku. Nyanyianku mengajarkan padaku segala pelajaran yang pernah kuterima; dan menunjukkan padaku rintis rahasia, diperlihatkan padaku bintang – bintang yang timbul di kaki langit hatiku. Sepanjang hari dituntunnya aku melihat keajaiban negeri, senang dan negeri sedih, dan akhirnya ke gapura istana indah manakah dibawanya aku, pada malam hari, di penghabisan perjalananku?”. Sebuah syairnya yang terakhir dinyanyi-lantunkan, “Biarlah semua pancaindraku bertebar dan menjamah dunia ini di bawah kaki-Mu, dalam sebuah pujaan pada-Mu, seterusnya sebagaimana dikutip di atas. Nyanyian buluh perindunya Tagore menyiratkan betapa seorang anak manusia yang adalah juga umat-Nya melalui Gitanjali mengungkapkan kerinduan terdalam akan “rahasia ilahi” sebagai ciri “hakikatnya”. Ia adalah Roh Cinta. “Berkat Roh cinta itu maka manusia menjadi Purusah, the person atau pribadi yang sempurna”, demikian dinyatakan Rabindranath Tagore dalam bukunya “The Religion of Man”.

Om Santi Santi Santi Om.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s