Inspirasi Agama

(Sunting Artikel) – Tugas Sad Darsana

“Agama memberi inspirasi dan motivasi bagi para pemeluknya untuk memberikan landasan etika, moral dan spiritual serta sekaligus meningkatkan etos kerja dalam menyukseskan pembangunanl.nasional sebagai pengamalan Pancasila” (Amanat Presiden Soeharto pada Pembukaaan Maha Sabha PHDI VI, 9. September 1991).

Konsekuensi logis bagi pemeluk agama adalah pertanggungjawabannya untuk menjadikan ajaran-ajaran agama sebagai pijakan dalam melangkah ke arah tujuan kehidupan — jagadhita dan moksa. Menganut agama, betapa pun bukanlah persoalan “meneruskan” kepercayaan yang sudah diyakin-imani. Tetapi merupakan impuls — gerak hati yang didorong oleh “kekuatan dalam” untuk meneguh-kukuhkan keyakinan bahwa hanya dengan mengikuti piteket agama, umat dapat selamat tertuntun menuju dan kemudian sampai pada-Nya. Lebih dari itu, mengimani ajaran-ajaran suci Ketuhanan, sesungguhnya merupakan kunci untuk bisa merealisasikan antara pernyataan doktriner suratan kitab-kitab suci ke dalam kenyataan hidup sehari-hari dengan bermacam tuntutan primer atau sekunder. Harapannya, tentu dimaksudkan agar umat tidak sampai keteter karena terlalu agamais, dan juga tidak menjadi sekuler lantaran cenderung materialis. Sikap keagamaan tetap patut dikedepankan untuk berperan sebagai “pengisi jiwa” agar tetap ajeg berada pada jalur kebenaran sesuai ketentuan. Bagaimana pun, agama tidaklah hanya untuk mengorbit ke sorga, tetapi dengan sama baiknya dapat pula mendarat di dunia, di mana umat sebagai makhluk kebanyakan hidup melangsungkan perikehidupannnya. Lebih tegas lagi, bagi umat, tidak hanya energi rohani yang dibutuhkan melalui santapan ajaran-ajaran suci keagamaan, tetapi energi penuh gizi dari pemenuhan bermacam kalori layak juga mendapat perhatian untuk diupaya-penuhi.

Dengan begitu, posisi agama sebenarnya berfungsi untuk menjembatani — menyeberangkan umat ke arah pencapaian kehidupan yang sejahtera di dunia dan berbahagia kelak di sorga. Karenanya amatlah benar apa yang dinyatakan oleh Presiden Soeharto, bahwa untuk mencapai semua itu, agama dapat dan memang sepatutnya dijadikan sebagai inspirator dan motivator — pemberi ilham melalui wahyu-wahyu rahayunya sekalian selaku pendorong peningkatan etos kerja atas landasan yang beretika, bermoral dan bermental spiritual. Dalam hal begini, hanya agama satu-satunya pegangan ideal yang konseptual untuk dapat diwujudnyatakan secara total ke dalam tindakan yang kontekstual.

Adalah menjadi swadharma umat untuk merealisasi inspirasi ajaran-ajaran suci Hyang Widhi guna mendorong segenap perilaku ke arah pengamalan yang nyata dari cita-cita hidup berkeagamaan. Sebab beragama tidaklah hanya untuk menjadi kepercayaan dan atau keyakinan tanpa pengamalan. Mengamalkan ajaran agama justru lebih rahayu daripada sekadar meyakininya. Beragama betapa pun tidak hanya dalam “KTP” — “Keyakinan Tanya Pengamalan”. Apalah artinya, yakin akan kebenaran ajaran agama, tetapi tidak meyakinkan dalam pengamalannya. Percaya akan kerahayuan petunjuk ajaran dharma, namun tidak bisa dipercaya dalam mengamalk.annya. Padahal, sesungguhnya inspirasi agama justru untuk lebih banyak direalisasikan ke dalam bentuk-bentuk pengamalan yang tidak saja diperuntukkan bagi kepentingan kebahagiaan diri sendiri, tetapi juga bagi kesejahteraan sesama insani — tak terkecuali dalam konteks dharma negara untuk turut serta menyukseskan program pembangunan di berbagai bidang.

Agama yang besar tidaklah berlingkup kecil ruang geraknya yang hanya untuk umat intern, tetapi harus mampu keluar sekaligus dapat menampilkan kebenaran-kebenaran ajaran agama itu untuk dunia dengan keseluruhan umat manusianya. Membangun dalam pengertian agama, jelas tidak terbatas pada usaha untuk membangun umat pemeluknya, tetapi lebih luas dari itu diminta juga pertanggungjawaban terhadap kepeduliannya dengan problem pembangunan umat manusia — warga dunia.

Meski agama sepenuhnya merupakan “urusan” pribadi, tetapi beragama tidaklah dimaksudkan untuk hanya bisa “mengurus diri sendiri” berhubungan dengan Hyang Widhi, lalu berharap melalui puja doa-doa memperoleh pahala sorga. Memeluk agama, membawa konsekuensi untuk dengan niatan rahayu turut “menggandengkan” kepentingan umat lain agar secara bersama-sama mencapai apa yang dicitaharapkan dalam hidupnya. Prinsip agama, Hindu khususnya adalah bagaimana umat bisa gumaweaken sukanikanang rat — membuat senang dan bahagianya dunia beserta segala penghuninya. Mengetahui agama memang perlu untuk menambah wawasan keagamaan. Menghayati ajaran agama pun tak kalah pentingnya guna memperkuat keyakinan dan mempertebal keimanan. Tetapi agama bukanlah semacam pengetahuan umum yang cukup untuk diketahui saja. Atau agama juga tidak merupakan sekadar bentuk penghayatan yang hanya cukup bergulat dalam olah batin. Agama adalah keseluruhan proses batin, mulai dari pengetahuan, penghayatan sampai pada tuntutan untuk merealisasikan inspirasi dan motivasi ajaran keagamaan guna diterjemahkan ke dalam bentuk pengamalan.

Betapa pun, orang akan lebih melihat bagaimana seorang umat beragama dapat mengamalkan ajaran-ajaran agamanya, daripada mempertanyakan agama apa yang dianutinya. Dengan memahami persoalan agama sebagai bentuk pengamalan, maka sesungguhnya pengetahuan dan penghayatan ajaran agama lebih diperlukan untuk mempertajam batin, bahwa apa yang diamalkan adalah sesuai dengan landasan etika, moral dan spiritual agama itu sendiri. “Buat saya, Tuhan adalah kebenaran dan kasih. Tuhan adalah etika dan moralitas”, begitu ucap Mahatma Gandhi. Tambahnya lagi, “Agama merupakan unsur permanen dalam watak manusia yang tidak memperhitungkan berapa pun harganya untuk dapat mengungkapkannya sepenuh-penuhnya”, tentunya termasuk dalam amalannya yang bersifat “melayani” — kehadapan Hyang Widhi dan kepada seisi bumi ini. Inspirasi agama adalah motivasi untuk merealisasikan misi suci ini. Om Santi Santi Santi Om.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s