DHARMA WACANA “DEWA CIPTAAN TUHAN”

(Sunting Artikel) - Sad Darsana III

“Karmātmanām ca dewānām

so’srjatprāninam prabhuh

sādhyānām ca gunam sūksmam

yajńam caiwa sanātanam” (Manu Smrti, I. 22).

Keyakinan umat Hindu bahwa Tuhan Monotheis, Esa adanya tidaklah dapat dibantah. Tetapi masalahnya kemudian, banyak kalangan awam mudah dikelirukan dengan adanya penyebutan banyak Dewa, yang dalam selayang pandangnya dipersamakan sebagai Tuhan Juga. Sehingga lahir pendapat bahwa agama Hindu bersifat polytheis — percaya dan memuja Tuhan yang banyak, dengan meningkatkannya pada “kenyataan” adanya Dewa-Dewa yang disembah lebih dari satu.

Sesungguhnya, apa yang disebut-sebut sebagai Dewa tiada lain “makhluk” Tuhan juga. Suratan sloka suci Manu Smrti di atas menegaskan arti, bahwa, “Tuhan yang telah menciptakan tingkat-tingkat dari pada Dewa-Dewa yang memiliki sifat hidup dan bergerak. Juga diciptakannya Sadhya yang berbadan halus serta upacara (yajna) yang kekal (sanatana)”. Petikan bermakna ini menunjukkan suatu pengertian bahwa Dewa adalah sebagai makhluk Tuhan sebagaimana halnya dengan makhluk Tuhan lainnya, mempunyai sifat hidup dan kerja (karma) yang menjadi sifat-sifat tertentu dari pada Dewa itu sendiri yang berbeda dari makhluk Tuhan lainnya. Jadi Dewa bukanlah Tuhan, karena Dewa diciptakan. Yang menciptakan ITU (TAT) adalah Tuhan, sebab hanya Tuhan sebagai pencipta, bukan lainnya (Gede Pudja, MA., S.H., Theologi Hindu, 1977, 21-23).

Lebih lanjut, Drs. I Gusti Agung Gde Putra dalam bukunya Gudamani I, memperbandingkan keber-ada-an Tuhan dengan Dewa itu sebagai halnya Matahari dengan sinarnya. Matahari hanya ada satu, Tuhan pun demikian adanya. Sinar matahari banyak jumlahnya, Dewa pun ada lebih dari satu. Tuhan adalah “sosok” pemujaan yang “tak terjangkau” — acintya, matahari pun adalah Brahmanda yang tak kuasa untuk didekati. Karena itu, jika matahari menyentuh langsung setiap makhluk dengan sinar-sinarnya, maka. Tuhanpun sebagai Yang Maha Suci, “didekati” oleh umatnya yang “tidak suci” itu melalui perantara para Dewa yang relatif lebih “bisa” digambarkan.

Yang jelas, Dewa itu tidaklah sama dengan Tuhan, meskipun Tuhan dengan Dewa tidak “dipisahkan” — seperti halnya matahari yang tak terpisahkan dari sinar-sinarnya. Jika dimengertikan lebih jauh, Dewa-Dewa itu tidak lain dari sinar-sinar suci Tuhan Yang Esa dalam manifestasi menurut fungsinya.

Di antara sinar-sinar suci Beliau itu yang dipandang terkuat adalah sinar-sinar Utpeti-sthiti-pralina, yang kemudian dimanifestasikan dalam sosok Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu selaku pemeliharaan dan Dewa Çiwa sebagai pelebur atau pengembali ke asal mula.

Ketiga Dewa manifestasi Hyang Widhi itulah selanjutnya dikenal sebagi Dewa Tri Murti, yang dalam perkembangan sejarah keumathinduan, khususnya di Bali disthanakan di Kahyangan Tiga — Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.

Di luar ketiga Dewa Tri Murti ini, sebagaimana menjadi keyakinan, masih ada banyak lagi, kesemuanya merupakan manifestasi Tuhan dalam fungsi bukan Tuhan itu sendiri.

Tetapi lepas dari persoalan bahwa Dewa itu bukan Tuhan, sebenarnyalah melalui perantara para Dewa itu umat berikhtiar mendekat dan menuju-Nya. Jadi sesungguhnya Dewapun Tuhan juga, sepanjang ditempatkan sebagai manifestasi dalam fungsi-Nya. Karena itu, memuja Dewi Saraswati misalnya, adalah juga memuia Sanghyang Widhi selaku Penguasa Ilmu pengetahuan. Mebakti di Pura Desa sthana Dewa Brahma, tidak lain menyembah Tuhan juga selaku pencipta seru sekalian alam. Pedek tangkil ke Pura Puseh, linggih Dewa Wisnu sama halnya dengan ngaturang bakti kehadapan Tuhan, sebagai pemelihara kelangsungan gerak bhuwana. Dan mebanten ring Pura Dalem genah Dewa Çiwa pade teken nyakupang sembah kehadapan Tuhan Juga, selaku panglebur sarwa maurip. Begitu seterusnya dan pada akhirnya bermuara pada keyakinan bahwa Tuhan tetap satu, hanya para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama.

Om Santi Santi Santi Om.

One thought on “DHARMA WACANA “DEWA CIPTAAN TUHAN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s