“AGAMA DAN POLITIK”

(Sunting Artikel) - Sad Darsana II

“Bagi saya politik yang hampa dari ajaran agama merupakan kesesatan mutlak yang senantiasa harus dihindari.  Dan oleh sebab itu, dalam politik kita juga harus membangun Kerajaan Surgawi.” (Mahatma Gandhi).

Persoalan yang paling menghangat belakangan ini dan boleh jadi kian “memanas” dalam waktu-waktu yang tidak terlalu lama lagi adalah bertalian dengan kehidupan politik bangsa Indonesia, yang sesuai konstitusi, tahun depan akan menggelar karya besar — Pemilihan Umum. Bagi organisasi-organisasi kekuatan sosial politik, saat-saat menjelang dibukannya gebyar Pemilu, tentu merupakan tahapan pematangan persiapan guna mengkampanyekan program sekaligus strategi pemenangan. Tak terkecuali, dan ini justru menjadi isu nomor satu, adalah berhubungan dengan masalah penyusunan dan atau pengajuan Caleg — Calon legislatif.

Dari media perkabaran, sangat santer terdengar, betapa urusan Caleg, menjadi begitu menyita perhatian khalayak. Sampai-sampai mencuat kesan, seolah-olah Pemilu itu hanya untuk arena “pembagian kursi.”

Dinyatakan demikian, sebab seperti juga diberitakan, begitu beberapa anggota dewan yang kini tidak dicalonkan lagi, penyakit “lesu darah” tiba-tiba merambah, membuatnya tidak bergairah mengikuti sidang-sidang penghabisan. Di pihak lain, yang tetap bertahan pada kursinya masing-masing, atau yang baru dicaleg-jadikan tentu merupakan kegembiraan tersendiri yang sulit untuk ditangkap maknanya.

Tetapi, bagi masyarakat kebanyakan, lepas dari persoalan “perebutan kursi”, sebagai warga negara yang baik, adalah merupakan kesempatan untuk berpartisipasi aktif menyukseskan penyelenggaraan Pemilu. Sebab, berkaitan erat dengan proses penerusan perjuangan bangsa melalui pelanjutan pembangunan nasional di segala bidang. Implikasinya begitu luas, menyangkut tanggungjawab seluruh warga dalam turut serta memikul tugas dan memanggil kewajiban kebangsaan untuk nantinya dapat dengan ayu nulus menuju era lepas landas, tanpa ada satupun yang ketinggalan di landasan.

Terlebih-lebih lagi, dalam konteks warga negara sebagai umat beragama, peristiwa semacam Pemilu merupakan wujud partisipasinya dalam merealisasikan komitmen dharma negara. Dan karena pemilu itu bertalian juga  dengan apa yang bisa disebut sebagai “perebutan pengaruh dan atau massa”, maka sesungguhnya bagi umat beragama merupakan gugahan bathinnya untuk lebih bersikap kritis atas landasan etik, moral dan spiritual guna sebijaksananya dapat mencairkan faham keagamaannya ke dalam muara ideologi politik, yang tak terpungkiri berbau intrik-intrik. Karen itu, apa yang ditegaskan oleh negarawan, politikus sekaligus agamawan Mahatma Gandhi di atas, pantas untuk ditempatkan di dalam lubuk kesucian hati sesuai panggilan imani. Bahwa betapapun politik harus diberinafas oleh jiwa agama. Politik bukanlah semacam alas kekuasaan dalam hal menghalalkan segala cara, sebagaimana diajarkan dedengkot absolutisme Niccolo Machiavelli. Politik, lebih-lebih bagi insan politisi yang beriman adalah pantang untuk menghampakannya dari semangat keagamaan. Dan itu kata Gandhi jelas harus dihindarkan.

Bahkan tambahnya lagi, dalam politik kita dapat dan harus juga membangun Kerajaan Surgawi. “Jadi politik tidaklah selalu harus “mempolitiki” apalagi “meliciki” sendi-sendi ajaran suci kerohanian, sekadar untuk meminta dukungan agama melalui fatwa-fatwa pembenarannya.

Memang sebenarnya agama tidak menjauhkan keberadaannya dengan persoalan politik. Tetapi politik tidak bisa memasuki “kawasan” agama. Bagaimanapun agama harus tetap dijaga kesuciannya untuk tidak dimasuki vested interest politik. Agama harus tetap diposisikan dalam “kemurnian” semangat pembelaannya dalam “membebaskan” umatnya dari bermacam nafsu, termasuk nafsu untuk meraih tahta dan atau kedudukan dalam kekuasaan.

Agama, jelas tidak bisa “menutup diri” dari persoalan politik. Dan agama pun, sebagaimana dikatakan YB. Sudarmanto dalam bukunya “Agama dan Politik Antikekerasan”, tidak akan cuci tangan dalam urusan politik, sejauh politik diartikan sebagai keterlibatan pada permasalahan masyarakat (polis) : kemiskinan, penindasan dan atau pembelaan terhadap nasib rakyat kecil.

Dalam pemeranan agama dalam konteks politik, kekuatan moral yang menjadi panji pembelaan agama justru menjadi pemicu untuk.memacu politik ke arah upaya-upaya pemenangan kepentingan politik dengan cara-cara yang rahayu sekaligus bisa memahayu-hayuning, termasuk kepada pihak satru sekalipun. Tidak seperti disitir oleh Kakawin Niti Sastra, III.10, “Jika tercapai tujuannya — politiknya — ia tidak sekali-kali merasa malu melihat kesengsaraan orang lain. Ia tidak memperdulikan dosa atau ketidaksucian, sebab hatinya sudah tertutup rapat. Lain sekali sikap orang suci, mereka itu selalu menjauhi perbuatan jahat..”

Padanannya, dan ini jelas harus dihindari bagi kalangan politisi yang beriman adalah “baju agama” tidaklah untuk membuat politik itu nampak bersih atau suci, sementara begitu tujuan politik telah tercapai, atribut agama ditanggal-tanggalkan dan lalu keletehan politik mulai mewarnai perjuangannya. Tokoh besar Mahatma Gandhi lagi-lagi menandaskan adalah merupakan “dosa sosial” bila politik tidak berprinsip — Politics without principles. Prinsip yang dimaksud adalah menjadikan agama sebagai penjaga nurani, meski dalam keterlibatan politik sekalipun, haruslah tetap memegang mission sacre — pembelaan dan akhirnya pembebasan umat dari bermacam persoalan keduniaan. Ini bukan mission imposible, tetapi sebuah tugas yang tak pernah boleh dilepaskan oleh kalangan politisi yang sudah “duduk diatas “ sebagai anggota dewan yang terhormat. Semoga segala pikiran yang baik datang dari segenap penjuru.

Om Santi Santi Santi Om.

One thought on ““AGAMA DAN POLITIK”

  1. dehi mengatakan:

    seorang agamawan boleh berpolitik, menjadi anggota dewan dan sebagainya, nanum harus mementingkan kepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi. dan yang lebih penting didasari ajaran agama, agar para politikus tidak ngawur dan SERAKAH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s